Shigellosis

Diare noninfeksi adalah diare yang akibatkan oleh malabsorbsi baik itu akibat malabsorbsi karbohidrat, lemak maupun protein. Selain itu diare juga dapat disebabkan oleh factor makanan dan psikologis. Kali ini pembahasan akan lebih difokuskan pada pembahasan diare yang diakibatkan oleh kuman Shigella spp dimana diare ini disebut disentri basiler.

Shigella adalah spasies mikroorganisme batang gram negatif yang anaerob fakultatif dan hanya melakukan infeksi pada manusia. Selain itu, Shigella dapat menfermentrasikan gula, nonmotil, dan dapat menyebabkan diare dengan jumlah kuman hanya 10 organisme. Shigella spp. Terdiri atas :

  • Shigella dysenteriae(Serogrup A)
  • Shigella flexneri (Serogrup B)
  • Shigella boydii (Serogrup C)
  • Shigella sonnei (Serogrup D)

Bakteri Shigella spp. ini ditularkan melalui makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri yang biasanya melalui rute feko – oral. Penyebaran ini paling banyak melalui penggunaan air yang tidak bersih dan penangangan makanan yang tidak bersih pula.

GAMBARAN KLINIK DAN LABORATORIUM

Gambaran klinik dari Shigellosis (disentri basiler) adalah diare dengan perubahan frekuensi defekasi dan konsistensi feses. Feses biasanya bercampur darah dan lendir serta tenesmus, dimana keadaan ini disebut sindroma disentri. Gejala lainnya dapat berupa kram pada perut. Sedangkan gejala sistemiknya dapat berupa batuk, anoreksia, dan malaise. Diagnosis pasti dari penyakit ini adalah menemukan bakteri Shigella spp pada feses yang diperiksa.

Gejala diare biasanya muncul dalam satu sampai tujuh hari setelah infeksi kuman ke dalam sel – sel usus. Paling sering pada hari pertama sampai ketiga.Sgl fact sheet. Pemeriksaan laboratorium feses pada keadaan disentri basiler akan memperlihatkan jumlah leukosit dan sel darah merah yang meningkat per lapangan pandang.

PENATALAKSANAAN

Terapi yang terbaru untuk shigellosis adalah Pivvmecillinam, Quinolones dan Ceftriaxones, tetapi karena harganya yang mahal maka Tromethoprim – Sulfamethoxazole atau Cotrimoxazole dan Asam Nilidiksat tang menjadi pilihan yang terjangkau.

Penggunaan Cotrimoxazole sangat efektif karena kerjanya yang menghambat reaksi enzimatik obligat dua tahap yang berurutan pada mikroba sehingga kombinasi obat ini menjadi sinergis. Penemuan preparat ini merupakan kemajuan penting dalam usaha meningkatkan efektifitas klinik antimikroba.

Dosis yang dianjurkan pada anak – anak adalah trimetoprin 8 mg/kg BB/ hari dan sulfametoksazol 40 mg/kg BB/hari, diberikan setiap 12 jam selama 15 hari. Pemberian pada anak dibawah usia 2 bulan dan pada ibu hamil atau menyusui tidak dianjurkan.

Selain kotrimoksazol, Asam Nilidiksat juga merupakan pilihan lain yang dapat diberika kepada penderita shigellosis. Kristal asam nilidiksat berupa bubuk putih atau kuning muda. Kelarutan dalam air rendah sekali, tetapi mudah larut dalam hidroksida alkali dan karbonat. Obat ini bekerja menghambat sintesis DNA dan biasanya bersifat bakterisid terhadap kebanyakn bakteri pathogen penyebab infeksi termasuk beberapa strain Shigella. Dosis pada anak adalah 55 mg/kg BB sehari dibagi dalam empat kali pemberian selama lima hari. Asam nilidiksat tidak boleh diberikan pada bayi berumur kurang dari 3 bulan dan juga pada trimester pertama kehamilan.

TIPS PENCEGAHAN

Usaha pencegahan sindroma disentri ini adalah dengan menjaga kebersihan. Baik itu kebersihan makanan, tempat pembuangan yang terpisah dengan tempat sumber air, kebersihan rumah dan individu di dalamnya juga hjarus mendapat perhatian.

About tbm calcaneus